Membangun Indonesia Tanpa Riba

Catatan Kopdar Nasional Agen Properti Syariah

Alhamdulillah, tiada kalimat yang patut diucapkan selain memuji kebesaran Allah SWT. Atas segala ijinNya lah semua usaha persiapan pra dan hari terlaksananya Kopdar Nasional Agen Properti Syariah bisa berjalan dengan baik. Alhamdulillah..

Saya juga bersyukur karena para guru yang telah Saya minta berbagi, bisa hadir dengan persembahan materi yang powerfull. Ada Pak Dwi Condro Triono, P.hD sebagai Pakar Ekonomi Islam dengan materinya yang syarat dengan retorika mengguncang dunia. Mas Muhammad Rosyidi Aziz selaku Founder Developer Property Syariah (DPS) telah mencerahkan para hadirin tentang jebakan properti, kesalahan agen, dan kiat sukses properti syariah yang diramu dalam 9 jurus. Ada juga Mas Andika Dwijatmiko yang merupakan Pakar Syariah Branding #1 di Indonesia, jasa perusahaan marcomm beliau banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan syariah di Indonesia, peserta pun dapat mengetahui bagaimana mereka harus membangun branding yang tepat.

Hadir pula Kang Risky Irawan yang Saya minta untuk berbagi mengenai ilmu marketing syariahnya, sebab beliau ini ternyata adalah Guru Marketing Properti Syariah di Indonesia. Dan terakhir, sosok Guru Muda namun ilmunya sangat berisi, beliau Kang Dewa Eka Prayoga, sang Dewa Selling, berbagi kepada peserta tentang tahapan-tahapan membangun agency properti syariah agar bisa closing ‘brutal’, walau sedikit kurang sehat, namun tak mengurangi bobot materi yang disampaikan.

membangun indonesia tanpa riba

Kalian guru-guru yang amazing.! Semoga Allah SWT melimpahkan rejeki, waktu yang lowong, kesehatan dan ilmu yang barokah.

Syukur juga ingin Saya panjatkan kepada Allah SWT, karenaNya lah peserta-peserta dari berbagai Kota bisa dimudahkan untuk berkumpul pada acara Kopdar Nasional Agen Properti Syariah #KNAPS di Bogor.

Ada peserta yang berasal dari Sulawesi, Kalimantan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera, Banten, Jabodetabek, Jawa Barat, mereka yang jumlah nya lebih dari 400 orang telah mengorbankan banyak waktu, tenaga dan materi untuk hadir di acara #KNAPS kemarin. Perkenankan Saya mengulangi melalui tulisan ini untuk memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir.

Tak lupa kepada seluruh Panitia yang super duper hebat, mereka Saya dadak menjadi Panitia, tidak pernah bertemu hingga H-2 dan barulah lengkap pertemuan seluruh panitia pada hari H hehe. Ada Wahyu Abi Khansa sebagai ketua panitia, ayo Mas, dengan kopdar kemarin, harus bisa belajar untuk menjadi leader ya hehe. Aji Muhidih Hurriyyah dan tim agencynya yang sangat membantu suksesnya acara ini, sebagai apresiasi atas kerja tim, Saya menawarkan untuk free coaching agar agencynya bisa bertumbuh (asyik hehe). Special thanks kepada genk emak-emak militan, terutama kepada Bunda Rachma yang sangat aware terhadap kopdar ini, terutama keinginannya agar peserta tidak kecewa dengan kopdar kemarin, beliau seperti mengurusi semua kopdar kemarin, mengalahkan ketupat hahaha. Begitupun dengan panitia inti lainnya yang tak sempat Saya sebutkan satu per satu. Kalian pokoke layak naik kelas yah. Siap-siap untuk didadak lagi tahun depan ya hehehe.

membangun indonesia tanpa riba

Melalui kesempatan ini juga, perkenankan Saya selaku Penggagas Kopdar Nasional Agen Properti Syariah mewakili panitia untuk menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta, karena selama persiapan dan di hari H #KNAPS banyak sekali kekurangan di sana sini. Jika ada kekurangan, sesungguhnya itu adalah kegagalan Saya selaku penggagas, bila sedikit terdapat kesuksesan itulah kerja team panitia yang all out dalam kegiatan kopdar ini.

Saya ingin menyampaikan point-point penting dari pada acara #KNAPS kemarin.

POINT 1 : “STRONG WHY”
Kita membutuhkan “alasan yang kuat” mengapa harus berkontribusi dalam properti syariah. Sejak tahun 2012, konsep properti syariah ini digagas, saat itu konsep ini merupakan hal yang benar-benar baru, tak pernah dikenal sebelumnya, yang tertarik padanya hanya itungan jari, bahkan dalam perjalanannya banyak diragukan dan tidak sedikit mendapat cibiran, baik dari kalangan calon konsumen maupun praktisi bisnis properti.

Kita menghadapi berbagai tantangan dalam berbagai hal. Bagaimana mengenalkan konsep ini kepada calon konsumen, membentuk teamnya, meregenerasi Developernya, menjelaskan differensiasinya kepada instansi terkait perijinan dan legalitas agar terhindar sogok menyogok, membangun kemitraan untuk penjualan dan produksi pun tak luput dari tantangan agar sehias sekata dengan konsep properti syariah.

Walau ada saja krikil menghalangi jalan, namun itu semua tidak membuat surut perjuangan untuk membumikan konsep properti syariah ini. Alhamdulillah, hingga detik Anda membaca tulisan ini, konsep properti syariah masih ada dan terus berkembang pesat, terhitung sudah 6 tahun sudah konsep ini digulirkan, telah hadir ribuan alumni baik melalui seminar, talk show, workshop, camp bisnis properti syariah. Ada ratusan ribu unit properti syariah telah dipasarkan, menariknya, karena produk properti syariah disambut dengan suka cita oleh pasar Muslim.

Lantas, apa sih rahasianya sehingga masih tetap teguh dalam memperjuangkan konsep properti syariah ini? “STRONG WHY”, yeah, karena terdapat “alasan kuat”, tak hanya karena ini Kita bertahan, tapi juga inilah yang melatarbelakangi dan tentu saja yang akan membuat Kita terus mengembangkannya.

Setidaknya Saya merangkum 3 “alasan kuat” di antaranya:

Pertama, ada puluhan juta ummat Islam yang saat ini terjerembab maksiat kredit pemilikan rumah ribawi, sebab mereka sebelumnya tak punya pilihan. Terdapat lebih dari 13.000.000 orang mampu membeli dan siap punya rumah, saat ini mereka tengah dihadapkan pada pilihan KPR Ribawi, KPR ‘50%’ Syariah atau KPR Syar’ie. Tak hanya itu saja, terdapat puluhan juta rakyat lainnya yang tak mampu memiliki rumah, di antara mereka ada yang terpaksa harus tidur di bawah kolom jembatan, di emperan toko, di hutan, di bantaran sungai, bahkan ada yang beralaskan bumi beratapkan langit.!

Kedua, 78% tanah di negeri Kita ternyata telah dikuasai oleh asing dan aseng. Ini bukan soal rasis, tapi menyoal cara-cara yang digunakan oleh mereka sudah tak mengindahkan norma, etika, peraturan, apalagi syariat Islam yang menjadi ajaran keyakinan mayoritas penduduk negeri ini. Coba Anda bayangkan, apakah tidak mengerikan, bila tanah sebanyak itu dikuasai asing dan aseng, mereka bisa berbuat seuatu yang membuat Kita tak berdaya.

Yang dibutuhkan oleh mereka hanya regulasi saja. Bagaimana agar regulasi itu bisa berpihak kepada pengusaha-pengusaha kapitalis. Dengan pengusaan tanah tersebut, mereka bisa membuat mega proyek (contoh Meik*rta), ada jutaan bahkan puluhan penghuni yang menjadi target market, dengan harga jauh di atas daya beli masyarakat yang membutuhkan rumah, tentu saja jika tidak akan terbeli, sehingga perlu menjualnya keluar negeri dan mendatangkan asing agar bisa bebas miliki aset properti dan berkeliaran di negeri Kita ini.

Jika tanah daratan belum memadai, tak mengapa lautan dijejali tanah (reklamasi) dan disulap menjadi barang mewah yang mendatangkan pembeli (sekali lagi) dari Asing dan Aseng.! Lihat lah apa yang terjadi pada Proyek reklamasi Jakarta (salah satu contoh saja), iklannya kini tengah gentayangan di Republik Rakyat Cina.!

Ketiga, Negeri Kita tengah ‘tergadai’ dengan utang ribawi dan sistem ekonomi kapitalisme global. Coba bayangkan, bagaimana Negara Kita ini tak mampu mengangkat kepalanya dengan tegak di hadapan Negara-negara pemberi utang. Akan sangat mudah kebijakan-kebijakan dibuat dalam rangka pro kepada Negara pemberi utang, minimal berpihak pada Pengusaha-pengusaha ‘utusan’ Negara ‘donatur’. Tidak usah heran, mengapa reklamasi Jakarta (dan di tempat lain) menjadi begitu dibela ‘hidup-mati’, baik dengan lisan, sikap dan peraturan oleh para Cukong di negeri Kita ini. Tak lain karena Negara Kita tercinta ini tengah tersandera.

Dilain sisi, rakyat harus menanggung beban bayar bunga utang (belum lagi pokok utangnya). Mereka harus dicekik dengan berbagai beban biaya hidup. Listrik, gas, bahan bakar kendaraan, telekomunikasi, pendidikan, kesehatan, keamanan dan tentua saja dengan ‘sejuta’ jenis pajak yang siap memangsa pundi-pundi harta rakyat negeri ini. Sementara, negeri ini tak henti-hentinya dilanda nestapa, musibah bencana alam, tsunami, gempa bumi, tanah longsor, banjir, dan lain sebagainya, seakan menjadi penyampai pesan akan negeri yang tiada barokah ini, yang hidup ditopang oleh utang ribawi, sebuah dosa yang Allah dan RasulNya telah umumkan PERANG kepada mereka yang berani mengambil riba.!

Inilah 3 “alasan kuat – strong why” mengapa konsep properti ini harus dimulai, dipertahankan sampai sekarang dan wajib untuk terus diperjuangkan.!

Dengan “strong why” ini lah, akhirnya Kita mendorong sebuah tema besar untuk diusung oleh gerakan properti syariah, yakni “MEMBANGUN INDONESIA TANPA RIBA dengan PROPERTI SYARIAH”

POINT 2 : “STEP by STEP”

Gagasan besar akan menguap bila tak disertai dengan tahapan-tahapan strategis. Itulah mengapa, Saya mencoba untuk membuat tahapan strategis yang butuh untuk Kita lakukan untuk menuju tercapainya tema besar yang Kita usung di atas.

membangun indonesia tanpa riba

Agar Kita bisa “MEMBANGUN INDONESIA TANPA RIBA dengan PROPERTI SYARIAH”, maka dibutuhkan oleh setiap Kita untuk melakukan:

Pertama, “KATAKAN TIDAK PADA RIBA”

Yeah, “SAY NO TO RIBA”, katakan tidak pada riba. Tulisan ini juga menghiasi baju peserta Kopdar Nasional Agen Properti Syariah #KNAPS kemarin. Tulisan ini bukan tanpa tujuan, melainkan agar setiap peserta benar-benar MENOLAK RIBA. Penolakan pada riba tentu saja tak sebatas tulisan di baju atau penghias bibir semata, tetapi wajib diamalkan dalam kehidupan nyata secara pribadi dan keluarga terutama.

Kita semua harus BEBAS RIBA, tak ada lagi kartu kredit, tiada lagi deposito di perbankan, kendaraan tak mengapa baru asal hard cash dan nggak leasing, rumah boleh mewah asal tak KPR Ribawi, usaha wajib besar dan profit tanpa modal ngutang riba. Singkatnya, mulai dari Kita bangun hingga kembali terbangun, tak ada lagi riba yang Kita sengajakan dan apalagi menikmatinya.!

Kedua, “AJAK YANG LAIN”

Mengapa Kita harus BEBAS RIBA? di samping itu kewajiban Kita, juga karena Kita membutuhkan sosok yang bebas riba untuk dapat membantu mereka yang terjerembab riba agar menjadi bebas riba. Ucapan Kita akan lebih berbobot, apabila omongan selaras dengan perbuatan. Yang mengucapkannya terasa enteng dan hikmat, sedang yang mendengarnya penuh dengan penghayatan.

Karenanya, hal kedua yang harus Kita lakukan setelah bebas riba adalah mengajak yang lain untuk juga bebas riba. Tularkan antibiotik-antiriba ini ke sebanyak mungkin. Perbanyak gerakan-gerakan penolakan pada riba. Hidupkan forum-forum talkshow, seminar, workshop, camp, atau apa saja yang itu bisa menjadi medium penghantar tentang dahsyatnya dosa riba. Semakin bayak dan massif ini dilakukan, semakin mempercepat datangnya ‘malaikat pencabut nyawa’ untuk mengakhiri kehidupan perbankan, yang notabene sebagai jantung ekonomi kapitalisme.

Ketiga “MEMBANGUN INDONESIA TANPA RIBA”

Apa yang Kita lakukan sekarang di bisnis properti syariah sesungguhnya adalah mengajak yang lain untuk ikut membangun indonesia tanpa riba. Mengajak para developer untuk hijrah, mengajak agency untuk hijrah, mengajak konsumen untuk hijrah, mengajak pemerintah untuk hijrah.

Kita mempercepat akusisi lahan, Kita banguni perumahan-perumahan untuk pasar muslim yang tak boleh disuguhi hidangan rumah ribawi, Kita banguni masjid-masjid sebagai basis pembinaan, Kita hadirkan pesantren-pesantren, rumah tahfidz, Kita bantu pemerintah untuk membentuk masyarakat yang shalih-shalihah, Kita bantu para orang tua untuk mendidik generasi rabbani, Kita bantu masyarakat muslim untuk punya rumah tanpa riba, tinggal di lingkungan Islami, yang ramah terhadap anak dan peduli masa depan dunia akhirat mereka.

Kita bantu pula pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan, Kita bantu pemerintah untuk menggairahkan perekonomian di sektor ril pada bidang properti yang konon akan menggerakkan puluhan jenis pekerjaan berbeda. Konsep-konsep properti syariah sangat mampu untuk diinovasi, sebab tak bergantung dengan regulasi perbankan. Dapat bertahan dengan kuat, karena berbasis pada sektro ril. Termasuk (tentu saja) ‘kontribusi’ Kita pada APBN dengan membayar pajak BPHTB 5%, PPh Final 2.5%, PPN 10%, Pajak Deviden 10%, Pajak Barang Mewah 20% dan masih banyak lagi item pajak lainnya yang dibayar oleh Kita di properti ini.

Tetapi tentu Kita tidak akan luput dari mengingatkan Pemerintah akan bahayanya ekonomi kapitalisme ini. Kita akan membangun komunikasi-komunikasi yang bersifat intens kepada pihak-pihak terkait untuk mulai membuat gagasan-gagasan strategis. Semuanya bermuara pada kalimat “MEMBANGUN INDONESIA TANPA RIBA”. Ke sinilah arah perjuangan Kita sesungguhnya..

POINT 3 : “ACTION”

Agar step by step di atas dapat terealisir, dibutuhkan langkah real, ini juga sekaligus menjadi rekomendasi kopdar nasional agen properti syariah kemarin. Saya menuliskannya di sini agar lebih mudah diingat dan agar bisa dibaca berulang.

Langkah pertama yang harus Kita lakukan dalam waktu dan tempo sesingkat-singkatnya adalah :

1. Membentuk Asosiasi Agen Properti Syariah.

Asosiasi ini dibentuk untuk mewadahi seluruh agen dan agency properti syariah yang hari ini tumbuh bak jamur di musim hujan, subuuurr. Dalam waktu dekat, akan dibentuk tim adhoc untuk membantu Saya dalam proses pembentukannya dan mengurusnya sampai pada legalitasnya.

2. Membuat program-program Asosiasi

Di bulan Januari, direncakana sudah mulai aktif kegiatan-kegiatan program asosiasi. Akan ada banyak program terencana yang diperuntukan bagi agen dan begitupun untuk agency-nya. Program ini dibuat dalam rangka membentuk pribadi agen dan perusahaan agency yang siap untuk bertumbuh, berkembang dan naik level. Mulai dari bahasan fiqh muamalah dari para ahli fiqhnya, ilmu negosiasinya, ilmu pemasarannya, ilmu brandingnya, ilmu mentalitynya, dan masih banyak lagi ilmu-ilmu lainnya yang akan membawa Kita pada kebaikan dunia dan akhirat in syaa Allah.

3. Meratakan Indonesia dengan Properti Syariah.

Ada 34 Provinsi, 98 Kota, 416 Kab & 6.000 Kecamatan. Di setiap tempat terdapat ruang-ruang kosong yang bisa Kita isi. Dibutuhkan sumber daya manusia terampil yang siap untuk mengisi ruang-ruang kosong tersebut. Siap besar, siap bertumbuh, siap naik kelas, siap berdaya, siap hidup mulia, siap menang, siap sholeh dan siap kaya.!

Kita membutuhkan puluhan ribu agen, agency, developer properti syariah. Kita pun butuh bersinergi untuk menciptakan peradaban Indonesia Tanpa Riba ini. Maka, dengan sinergi inilah, Kita akan bisa meratakan Indonesia dengan Properti Syariah. Sehingga di setiap tahunnya, Kita bisa berkumpul menyatukan kembali energi positif, penambahan jumlah menjadi penting, namun tak kalah pentingnya adalah meningkatnya kualitas. Kita menargetkan setiap tahunnya ada peningkatan yang sifatnya eksponensial.

Bila tahun 2017 Kita menghadirkan 400-500 peserta, maka di tahun 2018 mendatang, akan Kita hadirkan 10.000 peserta, 2019 sebanyak 30.000 hadirin. Bagaimana caranya? Tak perlu pikirkan bagaimana, cukup lakukan langkah-langkah real di atas ya temans 🙂

membangun indonesia tanpa riba

Walhasil, selamat kepada seluruh peserta yang telah hadir pada acara Kopdar Nasional Agen Properti Syariah tgl. 24 Desember 2017 di Bogor. Semoga jerih payah Kita semuanya mendapatkan hasil yang berarti dan bermanfaat bagi pribadi, masyarakat dan negeri yang Kita cintai ini.! Sampai jumpa kopdar tahun depan dengan 10.000 agen Properti Syariah.!

Dan akhirnya, Saya sebagai penggagas Acara Kopdar Nasional Agen Properti Syariah, menyampaikan permohonan maaf atas persembahan acara.

Salam,

al Faqir Rudini Corp
Founder Developer Property Syariah Indonesia
Founder Asosiasi Agen Properti Syariah
Penggagas #KNAPS Kopdar Agen Properti Syariah